BB Labkesmas Yogyakarta Skrining TBC untuk 2.000 Pelaku Wisata di Malioboro dan Keraton

BB Labkesmas Yogyakarta Skrining TBC untuk 2.000 Pelaku Wisata di Malioboro dan Keraton

  • By
  • 2025-11-29 17:17:27
  • 297

Yogyakarta, 29 November 2025

Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Yogyakarta melakukan skrining aktif Tuberkulosis (TBC) berbasis laboratorium bagi 2.000 pelaku wisata di kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta. Kegiatan ini juga diikuti investigasi kontak keluarga pasien TBC untuk memperkuat pengendalian penularan di DIY.

Skrining aktif Tuberkulosis (TBC) berbasis laboratorium ini merupakan kolaborasi antara BB Labkesmas Yogyakarta dengan Dinas Kesehatan Provinsi DIY, IDI Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, 18 Puskesmas di wilayah Kota Yogyakarta, PATELKI, BLKK Yogyakarta, Labkes Kota Yogyakarta, RSPAU dr. S. Hardjolukito, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, UPT Pengelola Kawasan Cagar Budaya, Dinas Koperasi dan UKM DIY, UPT BLUT UMKM, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Keraton Yogyakarta, dan Kader Komunitas (Siklus, PKBI).

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K) mengapresiasi kolaborasi lintas sektor tersebut yang memungkinkan pelaksanaan skrining berbasis laboratorium di dua pusat wisata tersibuk tersebut.

“Malioboro dan Keraton merupakan pusat interaksi wisatawan dengan pergerakan hingga 15 juta pengunjung per tahun. Skrining berbasis laboratorium seperti hari ini memiliki dampak strategis terhadap pengendalian penularan,” kata Wamenkes.

"Kegiatan yang menjangkau sekitar 2.000 pelaku wisata di kawasan Malioboro dan Keraton ini bukan hanya sebuah program kesehatan. Tetapi sebuah bentuk nyata dalam merawat ruang hidup Yogyakarta sebagai kawasan budaya, wisata, dan ekonomi yang sehat serta berkeadaban,"kata
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti dalam acara penutupan kegiatan Skrining TB di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan.

Kepala BB Labkesmas Yogyakarta, dr. Muhammad Budi Hidayat, M.Kes dalam sambutannya menyampaikan "Kolaborasi berbagai instansi ini menunjukkan komitmen bersama dalam menciptakan wisata Keraton, Malioboro serta Kota Yogyakarta sebagai kawasan yang sehat dan aman."  

 

TBC masih menjadi tantangan kesehatan di DIY. Penemuan kasus baru mencapai 65%, dengan 93% pasien memulai pengobatan dan tingkat keberhasilan 79%. Cakupan Terapi Pencegahan TBC (TPT) baru 22%, dan investigasi kontak 53%.

Di Kota Yogyakarta, penemuan kasus telah 100%, dengan 93% memulai pengobatan dan keberhasilan 73%. Cakupan TPT 34%, investigasi kontak 49%.

Kegiatan ini mendukung Program Hasil Terbaik Cepat Presiden Prabowo Subianto, terutama percepatan penurunan TBC, perluasan layanan kesehatan gratis, dan penguatan jejaring laboratorium.

Pada kesempatan yang sama, Kemenkes meluncurkan Model ACF Tuberkulosis Berbasis Laboratorium, yang dapat direplikasi di daerah lain dengan mobilitas tinggi.

 

“Saya berharap model ini menjadi contoh praktik baik yang dapat diterapkan di daerah lain, khususnya di kawasan wisata dan wilayah dengan mobilitas tinggi,” tambah Wamenkes.

Kemenkes berkomitmen memperluas skrining aktif, meningkatkan cakupan TPT, memperkuat surveilans komunitas, dan mengintegrasikan layanan TBC dalam transformasi layanan primer.