Dalam rangka meningkatkan kapasitas personil laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta tentang pengujian resistensi vektor, khususnya pengujian secara molekuler status kerentanan (resistensi) vektor terhadap insektisida, BBTKLPP Yogkarta mengirimkan 5 personil untuk mengikuti pelatihan ke Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoar Penyakit (B2P2VRP) di Kota Salatiga. Kelima personil tersebut terdiri dari Entomolog Kesehatan 4 orang (Dr. Andiyatu, S.K.M., M.Si., Yohanes Didik Setiawan, S.Si., M.Sc., Kustiah, S.Si., dan Zuanah, A.Md.KL.) dan Pranata Laboratorium Kesehatan 1 orang (Havid Setyawan, S.Si., M.Biotech). Tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam melakukan pengujian resistensi vektor menggunakan metode PCR.
Pelatihan dilaksanakan tanggal 27 - 29 November 2023 bertempat di Laboratorium Virologi B2P2VRP salatiga. Kegiatan di hari pertama, peserta diberikan materi pengantar tentang mekanisme resistensi, lalu dilanjutkan dengan praktikum ekstraksi DNA genom pada spesimen Aedes aegypti. Di hari kedua, dilakukan praktikum amplifikasi dan elektroforesis gen AChE dan VGSC, yaitu gen yang mengkode resistensi terhadap insektisida organofosfat dan karbamat (AChE), dan gen yang mengkode resistensi terhadap insektisida piretroid dan DDT (VGSC). Dari praktikum hari kedua berhasil diamplifikasi kedua gen target. Pada hari ke 3, dilakukan praktek purifikasi DNA gen AChE dan gen VGSC, dilanjutkan praktek sekuensing. Praktikum sekuensing dilakukan terbatas, yakni dengan simulasi karena mesin sequenser masih dalam proses kaliberasi. Setelah melakukan simulasi cara sekuensing, selanjutnya praktek pembacaan dan interpretasi data hasil sekuensing menggunakan data sekunder. Nyamuk uji dinyatakan resisten jika dari data sekuens nyamuk uji terlihat adanya mutasi nukleotida yang menyebabkan mutasi pada asam amino pada kodon tertentu. Sebagai referensi, Gen AChE yang umumnya mengalami mutasi pada Aedes sp adalah pada kodon G119, sedangkan mutasi asam amino pada gen VGSC umumnya terjadi pada kodon S996P; S989P; V1016G; F1023C; dan F1534C. Keberadaan mutasi DNA pada kodon-kodon tersebut digunakan sebagai indikator adanya resistensi vektor terhadap insektisida.
Ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini diharapkan dapat diterapkan di laboratorium BBTKLPP Yogyakarta, terutama untuk menyediakan informasi status resistensi vektor Dengue di wilayah layanan tugas, yang berguna bagi stakeholder dalam manajemen resistensi vektor terhadap insektisida program.