Penguatan fungsi surveilans berbasis laboratorium menjadi semakin penting seiring dengan transformasi sistem kesehatan nasional dan pengembangan jejaring laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas). Labkesmas diharapkan tidak hanya berperan sebagai penyedia hasil pemeriksaan laboratorium, tetapi juga mampu mengelola dan memanfaatkan data secara optimal guna menghasilkan informasi kesehatan masyarakat yang akurat, tepat waktu, dan dapat ditindaklanjuti, serta mendorong penerapan pelaksanaan surveilans berbasis laboratorium pada tingkat 2 dan tingkat 3 di wilayah regional masing-masing.
Dalam rangka peningkatkan kapasitas laboratorium kesehatan masyarakat dalam mengimplementasikan surveilans berbasis laboratorium secara efektif pada jejaring Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas), Kementerian Kesehatan, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan Health Security Partner (HSP) menyelenggarakan Workshop Penguatan Surveilans Berbasis Laboratorium bagi Labkesmas Regional dan Nasional di Bogor tanggal 14-17 Juli 2026 dengan mengundang 13 Labkesmas di tingkat 5 dan Tingkat 4 yang terdiri dari Balai Besar/Balai Laboratorium Kesehatan Masyarat di Indonesia .
Pertemuan dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (dr. Darmawali Handoko, M.Epid.). Dilanjutkan sesi materi, kegiatan diisi dengan pemaparan dari sejumlah narasumber, 1) Kebijakan Penyelenggaraan Labkesmas oleh Bapak Subhan, S.K.M., M.Epid dari Dit, Takel PKP; 2) Konsep Dasar Surveilans Berbasis Laboratorium dan Penerapanya oleh Ibu drg. Yekti Praptiningsih, MDDs, M.Epid dari CDC, dan 3) Event-Based Surveillance (EBS) dalam SKDR oleh dr. Irma Gusmi Ratih, M.Epid dari Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan.
Pada hari kedua, Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (BB Lab Biokes), Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan (BBLKL) Salatiga, BB Labkesmas Yogyakarta, dan BB Labkesmas Surabaya berkesempatan untuk berbagi pengalaman serta pembelajaran dalam melakukan analisis data surveilans berbasis laboratorium yang telah dilakukan di wilayah kerja masing-masing.
Selama empat hari pelaksanaan peserta mengikuti rangkaian diskusi kelompok berbasis studi kasus yang mencakup identifikasi data, analisis data, interpretasi hasil analisis, serta komunikasi hasil surveilans laboratorium. Kegiatan diawali dengan pembelajaran mengenai cara mengidentifikasi sumber data, variabel, serta kualitas data yang diperlukan dalam surveilans berbasis laboratorium, kemudian dilanjutkan dengan analisis data untuk menghasilkan informasi yang dapat menggambarkan situasi kesehatan masyarakat. Hasil analisis tersebut selanjutnya diinterpretasikan untuk mengidentifikasi pola, tren, dan makna epidemiologis yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi. Peserta juga berlatih mengkomunikasikan hasil analisis melalui penyajian data yang efektif dan mudah dipahami oleh pemangku kepentingan. Selanjutnya, seluruh tahapan tersebut diterapkan menggunakan data internal masing-masing laboratorium sehingga peserta dapat mempraktikkan secara langsung proses pengolahan, analisis, interpretasi, dan penyajian data dengan pendampingan fasilitator. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok untuk memperoleh masukan yang berasal dari peserta lain maupun fasilitator.
Sebagai penutup, kegiatan ini merumuskan lima rencana tindak lanjut, yaitu peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan bimtek berjenjang, penyusunan pedoman serta standar nasional surveilans berbasis laboratorium, perumusan mekanisme pengampuan dan akses data regional hingga nasional, penyeragaman format diseminasi informasi untuk penentuan kebijakan, serta peningkatan kualitas data Labkesmas.