Banjir di Kabupaten Demak telah terjadi dua kali pada tahun 2024, yaitu pada bulan Februari dan Maret. Banjir ini disebabkan oleh jebolnya tanggul Sungai Wulan dan curah hujan yang cukup tinggi di awal Februari dan akhir Maret. Berdasarkan laporan dari badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat setidaknya banjir melanda di 25 desa yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Demak, yaitu: Kecamatan Karanganyar, Gajar, dan Mijen. Di akhir Maret, banjir sempat meluas ke 126 desa di 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Demak. Setidaknya 131.703 orang terdampak. Menjelang berakhirnya masa tanggap darurat pada tanggal 4 Maret 2024, situasi wilayah terdampak banjir telah berangsur kondusif.
Surveilans faktor risiko dampak bencana banjir di Kabupaten Demak, dilakukan pada tanggal 2-3 April 2024, dalam bentuk kegiatan: (1) Penyerahan bantuan logistik hygiene personal kit dan logistik perbaikan kualitas air dan sanitasi, (2) Rapid Health Assesment (RHA) pasca bencana, dan (3) Pendampingan teknis upaya perbaikan kualitas air. Bantuan logistik yang diserahkan meliputi: personal hygine kit; bahan pengolah air untuk perbaikan kualitas air secara fisik, kimia, dan bakteriologi; serta bahan desinfektan untuk pengamanan lingkungan rumah dan pengamanan sampah. RHA dilakukan di lokasi yang paling terdampak bencana, yaitu di Dusun Kedung Banteng, Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar. Sampai saat kegiatan ini dilakukan dan menjelang masa tanggap darurat berakhir, suasana sudah mulai berangsur pulih, aktifitas sudah berjalan normal. Warga masyarakat sudah meninggalkan posko bencana pada tanggal 28 Maret 2024.
Untuk kesiapsiagaan terhadap bencana serupa di masa mendatang, tim BB Labkesmas Yogyakarta melakukan bimbingan teknis bagi petugas Labkesmas tier 1. Kegiatan pendampingan teknis untuk perbaikan kualitas lingkungan ini diperlukan agar warga masyarakat mampu melakukan perbaikan kualitas air dan penanganan sampah yang aman secara mandiri saat terjadi bencana ataupun pasca bencana. Berdasarkan observasi di lapangan, diperlukan perbaikan kualitas air dengan melakukan desinfeksi air sumur gali yang terdampak oleh banjir. Untuk itu, dilakukan on the job training desinfeksi air sumur gali dengan cara khlorinasi bagi petugas Puskesmas Karanganyar I (Labkesmas tier 1). Petugas BB Labkesmas Yogyakarta melakukan bimbngan teknis berupa praktek pembuatan chlorin diffuser dengan alat dan bahan yang telah diberikan.