Penyakit zoonotik, antara lain leptospirosis, Avian Influenza, dan antraks, masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Selain itu, sekitar 70% dari penyakit Infeksi Baru (PIB) merupakan penyakit zoonotik. Dalam rangka meningkatkan potensi kerjasama antar laboratorium untuk mendukung Program Deteksi dan Surveilans Zoonosis dan PIB berbasis laboratorium terpadu lintas sektor, Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan (SKK) melaksanakan pertemuan FGD Tematik JLOH pada tanggal 9 – 10 November 2023, berlokasi di Hotel Wyndham Casablanca, Jakarta Selatan. Pada pertemuan ini, BBTKLPP Yogyakarta diwakili oleh dr. Dwi Amalia, M.P.H. (Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya) dan Indaryati, S.ST. (Pranata Laboratorium Kesehatan Ahli Muda dari Instalasi Virologi dan Imunologi).
Pertemuan dibuka oleh Direktur SKK Kementerian Kesehatan, dr. Achmad Farchanny Tri Ardyanto, M.K.M. dengan arahan kebijakan terkini tentang penguatan laboratorium dalam mendukung deteksi dan surveilans zoonosis dan PIB berbasis laboratorium terpadu lintas sektor. Presentasi Sesi I diawali dengan diseminasi hasil IHR JEE 2023 dan rekomendasi prioritas dari Area Teknis Sistem Laboratorium Nasional, Area Teknis Zoonosis, dan Area Teknis Surveilans secara panel oleh Ketua Timja Laboratorium Kesehatan Masyarakat, Timja Zoonosis, dan Timja Surveilans. Presentasi Sesi II terdiri atas tiga materi, yaitu mengenai penerapan systematical review untuk mendukung surveilans leptospirosis, dukungan kebijakan penguatan kerjasama antar jejaring laboratorium dalam JLOH, dan penerapan protocol lab PREDICT untuk deteksi PIB. Sesi presentasi hari pertama ini diakhiri dengan diskusi.
Pada hari kedua, dipresentasikan mengenai standart pemeriksaan laboratorium untuk High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) pada ungags dan flu burung pada manusia dengan narasumber dari Balai Besar Veteriner Wates dan Laboratorium Penyakit Infeksi Prof. Oemijati, serta standar pemeriksaan laboratorium untuk antraks dan manusia dengan narasumber dari BBVet Wates dan BBTKLPP Yogyakarta. Pada diskusi dan penyusunan rencana tindak lanjut, ditekankan perlunya kerjasama antar lintas jejaring laboratorium dalam sharing data, spesimen dan reagen guna mendukung terselenggaranya One Health dan penanggulangan KLB terkait penyakit zoonosis, dan perlunya kebijakan jejaring laboratorium One Health yang didukung oleh hukum yang berlaku.