Kamis, 16 Oktober 2025 berlokasi di Tjokrosukarnan Resto The Amrani Syariah, Jl Slamet Riyadi No 534, Kerten, Kota Surakarta, BB Labkesmas menyelenggarakan Pembekalan Teknis Surveilans Penyakit dan Faktor Risiko Leptospirosis di Kota Surakarta. Pertemuan dihadiri oleh 58 orang dari Dinkes Kota Surakarta, Labkesmas Kota Surakarta, puskesmas dan rumah sakit.
Acara dibuka oleh Ibu Indah Nur Haeni, S.Si, M.Sc selaku Ketua Tim Kerja Surveilans Penyakit, Faktor Risiko Kesehatan, dan KLB, BB Labkesmas Yogyakarta. Kegiatan sebagai mandatori BB Labkesmas Yogyakarta dalam fungsi surveilans penyakit dan rujukan laboratorium wilayah regional 5 dalam bentuk refresh pengetahuan dan ketrampilan terkait leptospirosis.
Bapak Agus Nurrahman, SKM, M.Kes dari Dinkes Provinsi Jawa Tengah menyampaikan Jawa Tengah memiliki kasus Leptospirosis tertinggi di Indonesia, per 30 September 2025 terdapat 622 kasus leptospirosis dengan kematian 104 orang. Kota Surakarta terdapat 25 kasus dengan 9 orang meninggal. Upaya pengendalian dilakukan dengan peningkatan kapasitas nakes, FGD dengan klinisi di RS wilayah CFR tinggi dan penguatan kolaborasi lintas sektor. dr Ratna Wijayanti, M.P.H. menyampaikan perlunya surveilans rutin dan surveilans ketat sebagai kewaspadaan dini. Faktor risiko leptospirosis: lingkungan terkontaminasi, fasilitas pembuangan sampah kurang, habitat tikus, jenis pekerjaan berisiko. Pemateri Erni Hidayati, S.Tr.Kes menjelaskan tentang manajemen spesimen leptospirosis mulai dari persiapan, cara pengambilan sampel darah dan lingkungan, penyimpanan, pengepakan dan pengiriman. Yuli Padma Sari, Amd.KL menjelaskan teknik pemasangan perangkap, pengambilan tikus, identifikasi tikus, pembedahan tikus, pengambilan darah tikus serta penanganan limbah karkas. Berbekal pengetahuan tersebut Dinas Kesehatan serta jajaran kesehatan dapat melakukan surveilans Leptospirosis secara mandiri.